SESAJI KEBERAGAMAN BUNYI KUA ETNIKA

Jogjaperformingart – Sesaji atau persembahan merupakan wujud lain dari puji-pujian atau doa yang dipanjatkan kepada Yang Maha Kuasa. Pemberian Sesaji atau Pisungsung tidak terbatas hanya kepada sesama manusia, melainkan juga pada tumbuhan, binatang, bahkan mahluk-mahluk pada dimensi lain yang hidup berdampingan namun tidak terlihat oleh mata kita. Sesaji bisa berupa benda-benda hidup maupun benda-benda tidak hidup. 

 

Indonesia diberi anugrah kekayaan ragam suku, adat, seni dan budaya, warisan leluhur yang tidak dimiliki oleh bangsa lain. Salah satu kekayaan Indonesia itu adalah beragam alat bunyi yang khas dan jarang diketahui oleh masyarakat luas, juga lagu-lagu dari beragam adat dan suku.

 

Keberagaman alat bunyi itu oleh Djaduk Ferianto dan Kua Etnika dikemas dan disajikan dalam sebuah album berisi  10 repertoar dalam sebuah konser bertajuk “Sesaji Nagari” di Taman Budaya Yogyakarta, Minggu 10/3/2019. Sesaji yang dipersembahkan merupakan lagu-lagu daerah yang diaransemen ulang menggunakan alat bunyi warisan leluhur dari berbagai suku, dari ujung timur hingga ujung barat Indonesia. Sepuluh repertoar itu menjadi lebih dinamis dan kaya nuansa. 

Penonton diajak menembus sekat-sekat antara alat musik tradisi dan musik modern. 

 

Konser “Sesaji Nagari” diawali oleh beragam alat bunyi yang saling bersahutan; gitar yang melengking, bas yang dominan, drum yang menghentak emosional, bonang, saron, kendang, seruling, semua alat bunyi tadi saling mendominasi. Tidak selaras. Namun lambat laun membentuk melodi yang harmonis. Alat bunyi modern tidak menikam alat bunyi tradisi sehingga tercipta harmoni dalam keberagaman musik yang indah di telinga penonton. Menghanyutkan sekaligus menenangkan. 

 

Keberagaman bunyi yang tidak harmonis pada pembuka konser rupanya disengaja oleh Jaduk untuk menunjukkan bahwa keberagaman berbagai alat bunyi merupakan refresentasi betapa kaya dan beragamnya alat bunyi tradisi yang dimiliki oleh Indonesia.

 

“Ini bukan konser politik,” ujar Djaduk di atas panggung. “Sesaji Nagari adalah konser tentang keberagaman alat bunyi yang menjadi kekayaan bangsa kita yang harus kita jaga dan kita syukuri.”

 

 Lagu kadal Nongak dari Lombok menjadi pembuka konser dilanjutkan dengan lagu Doni Dole dari Sulawesi Tengah, yang disisipi alat musik Udu Pot dari India. Rancak dan menawan.

 

Setiap jeda usai membawakan repertoar, Djaduk Ferianto dengan cerdas menyajikan sisipan dialog sampakan dengan mengundang dua anak muda generasi milenial yakni Alit dan Gundi. Suasana gedung pertunjukan tak ayal lagi penuh canda tawa oleh banyolan khas Yogyakarta. Dialog ocehan satir tentang kondisi bangsa menjadi bahan guyonan termasuk juga tentang RUU Permusikan yang tengah ramai diperbincangkan akhir-akhir ini.

 

Djaduk mengajak kedua anak muda milenial itu sebagai pemikat pada generasi muda pada musik tradisi yang telah diabaikan oleh generasi milenial bahkan oleh negara. Itu sebabnya lagu-lagu daerah diperkenalkan kembali dalam sajian yang berbeda agar generasi milenial juga mengenal kekayaan bangsanya sendiri.

 

Usai jeda penuh sarkasme, repertoar lagu-lagu daerah disajikan dengan nuansa kebhinekaan seperti, lagu Batanghari dari Jambi. Sedangkan repertoar Anak-anak khatulistiwa yang syairnya ditulis oleh aktor Landung Simatupang, disajikan dengan nuansa Papua. Dilanjutkan dengan lagu daerah Bengkulu yakni Lalan Belek. Repertoar Lalan Belek disajikan dengan instrument Dol yang ditabuh dengan penuh energik dan ekspresif. Indah dan menghentak dalam keberagaman seni bunyi. 

 

Usai menyajikan Sesaji Nagari, Djaduk ferianto dan Kua Etnika mengaransemen ulang lagu yang akrab di telinga penggemar musik dangdut yakni Ulan Andung-andung dari Banyuwangi yang diciptakan oleh Endro Wilis. Di tangan Jaduk, komposisi Ulan Andung-andung berubah total.

Suasana yang sebelumnya gegap gempita oleh suara bunyi perlahan berubah magis. Panggung gelap. Perlahan di sudut latar kanan panggung muncul imaji bulan purnama. Silir Pujiwati sang vokalis berdiri dalam bayang-bayang temaram cahaya rembulan. Dalam kesunyian, perlahan suara symbal ditabuh dengan ketukan lamban, disusul suara bonang dan saron yang kemudian ditimpali oleh bunyi piano yang liris. Tenang, penuh kepiluan, seklaigus memberikan nuansa magis saat Silir Pujiwati menyanyikannya dalam harmoni jazzy yang ringan. Menghanyutkan. Perlahan pula cahaya rembulan menerangi tubuh Silir Pujiwati yang dengan penuh penghayatan menembang Ulan Andung-andung:

 

Ulan, andhung andhung

Yoro metuo saben ulan saben taun

Sinare condro dewi ala emak

Kepilu padang mendem gadung bakalan wurung

 

Ulan andhung andhung

Ono padhyang ono mendhung ala emak…

Tangise wong lanang

Kang keduhung….

 

Usai Ulan Andung-andung Jaduk dan Kua Etnika menyajikan lagu anak-anak dari Bali yakni Made Cenik dilanjutkan lagu Batak Sigulepong namun bernuansa jawa.

 

Menjelang akhir pertunjukan sekelompok pemuda membawa satu tampah berisi tumpeng sebagai syukuran “Sesaji Nagari.” Jaduk kemudian meminta Mahfud MD yang saat itu ikut menonton untuk naik ke atas panggung, membacakan doa, agar keberagaman bangsa tetap terjaga dan antarsesama saling mengasihi.

 

Konser ditutup oleh repertoar “Air Kehidupan” yang penuh pengharapan dan penuh semangat juang. 

 

Kami menunggu gemercik sunyimu untuk mengubah harapan

Mengalirlah kesini bersama kebenaran mata airmu.

Paksakan tanahku menjadi telaga cinta.

 

Di tanah ini kami murka

Resah

Amarah 

Di tanah ini hidup dan harapan harus berubah

Harus berubah

Harus berubah…

 

Konser “Sesaji Nagari” terbilang sukses memuaskan penonton. Tata suara yang bening dan tata cahaya yang elegan memanjakan mata dan para juru foto. Kekayaan beragam sesaji warisan leluhur ini memang harus kita jaga dan kita syukuri.

(Eko Susanto)

 
en_USEnglish
en_USEnglish