Sengkuni 2019 : Gugatan Cak Nun Pada Bangsa

Sengkuni 2019

Joko Kamto bersama Teater Perdikan memerankan tokoh Sengkuni pada lakon Sengkuni 2019 Sabtu (12/1) di Taman Budaya Yogyakarta.

Jogjaperformingart – Mengawali tahun 2019, teater Perdikan mementaskan lakon berjudul “Sengkuni 2019” karya Emha Ainun Najib atau Cak Nun, dan disutradarai oleh Jujuk Prabowo, pada sabtu (12/1) dan Minggu (13/1) di Gedung Taman Budaya Yogyakarta. Pertunjukan dengan durasi nyaris tiga jam ini berisi kritik dan instropeksi diri, tidak hanya buat pejabat publik, tapi juga buat kita yang hidup di tahun politik yang penuh kegaduhan, intrik, bahkan teman berubah menjadi lawan.

Aktor kawakan Joko Kamto yang memerankan tokoh Sengkuni sekaligus sebagai Narator bermain cukup prima dengan penguasaan naskah dan daya tahan tubuh yang kuat. Sengkuni di tangan Cak Nun, disuguhkan dengan segala jenis tafsir atas sumber sejarah yang berbeda beda tentang dirinya.

Sengkuni 2019 merupakan pengakuan atas dirinya terhadap segala yang terjadi di negeri ini. Dalam narasinya, Sengkuni telah mengakui bahwa dia telah memakan ayahnya sendiri, Ibu, beserta 99 saudaranya untuk bertahan hidup dan mengabdi pada kehidupannya sendiri.

Sepanjang pertunjukan, pembabakan diselingi oleh penggambaran Anak Kids Jaman Now dengan musik dan tarian disertai improvisasi pengubahan seting panggung yang elegan. Sayangnya dalam adegan ini ada beberapa gerakan yang terlihat kurang kompak. Sebenarnya, adegan ini sangat baik untuk menjaga ritme dan berupaya mengendurkan syaraf otak penonton yang sepanjang pertunjukan disuguhi narasi-narasi panjang yang penuh makna.

Sengkuni 2019 berkisah tentang Pak Kandek yang menolak anaknya, Bagus, menjadi seorang pejabat. Alasannya, sebab pejabat itu mengejar jabatan dan kekuasaan bukan seorang pemimpin. Pak Kandek dipereankan dengan sangat kuat oleh Novi Budianto sedangkan Bagus diperankan oleh Margono Wedya pranasworo.

Jeda pembabakan Sengkuni 2019 diselingi oleh sekelompok anak muda milenial yang dimainkan oleh para pemain, yang sebenarnya tidak muda lagi, sambil bergosip tentang segala tidak tanduk Sengkuni. Tentu saja ada yang pro dan yang kontra. Tata cahaya Sengkuni 2019 penuh dengan kejutan. Warna keras seperti ungu sengaja ditabrakkan dengan biru, merah dan kuning yang pergantiannya sangat cepat sehingga tubuh para pemain selalu diselimuti warna-warna keras sehingga tentu saja mempengaruhi skin tone tiap pemain di atas panggung. Tentu saja ini tantangan bagi forografer yang meliput lakon Sengkuni ini.

Narasi Sengkuni 2019 adalah narasi tentang kehidupan. Kita seperti diajak untuk memasuki dunia yang sesungguhnya, yakni dunia Indonesia tapi dengan santai sambil sesekali guyonan dengan penonton.

Bintang lakon semalam tentu saja Joko Kamto yang berperan sebagai Sengkuni. Dialah bintang malam tadi yang mewedarkan narasi panjang dengan sempurna tentang bagaimana sebenarnya rasa dengki itu bekerja dalam tubuh manusia. Tanpa menimbulkna kebosanan bagi penonton.

“Semua orang baik membenci saya karena kejahatan saya. Orang jahat juga membenci saya karena mereka menganggap saya menjadi sumber kejahatan,“ kata Sengkuni kepada penonton.

“Banyak orang munafik dan licik tapi selalu saya yang disalahkan. Saya jahat karena saya ditindas. Sementara kalian jahat karena sebenarnya pribadi kalianlah yang memang hina. Kalian sebenarnya lebih berbahaya dari saya karena bernafsu saling memusnahkan,” Demikian Sengkuni bermonolog.

Ini tahun politik menuju Pemilu 2019. Banyak orang menuding orang lain sebagai Sengkuni, padahal dirinya sendiri juga memiliki sifat Sengkuni. “Para Sengkuni saling menuding Sengkuni satu sama lain. Itulah kesadaran 2019 bangsa Indonesia.”

Cak Nun dalam pengantar pertunjukan mengatakan: “Siapa bisa menjamin bahwa wajah di balik cermin kita masing-masing atau bersama sama itu ternyata beraura Sengkuni atau bahkan Sengkuni itu sendiri. Bangsa ini membutuhkan keikhlasan dan ketajaman untuk jujur pada dirinya sendiri,” tulis Cak Nun dalam pengantar pertunjukan.

Naskah ini, demikian Cak Nun, mengajak penonton untuk berpikir ulang atas tindakan atau pilihan yang kini mereka yakini sebagai kebenaran. Pilihannya, apakah kita akan terus menerus berperan sebagai Sengkuni yang rendahan atau kita memilih untuk menjadi lebih beradab. Pilihannya ada di tangan para penonton.

Photo & Text by Eko Susanto