Sengkuni 2019: Dendam Dan Rasa Dengki Anak Negeri

Sengkuni 2019

Bagus, diperankan oleh margono Wedya pranaswara, melakukan adegan salat sesuai perintah Pak Kandheg, bapaknya, di depan Kyai Saga Gati dalam lakon Sengkuni 2019 di taman budaya Yogyakarta Sabtu

Jogjaperformingart – Sengkuni merupakan seorang antagonis dalam realitas sosial kehidupan kita. Watak antagonisnya tumbuh dari rasa dendam kepada Destarasta, karena menikahi kakak perempuannya; Gandari. Padahal, Sengkuni menginginkan Gandari menikah dengan Pandu, ayah dari para Pandawa. Baginya, Pandu adalah guru bagi kehidupannya. Manusia linuwih, bibit unggul, yang dipujanya sepanjang hidup. Dia kecewa dan menderita. Sejak itu dalam jiwanya tumbuh dendam dan rasa dengki kepada Destarasta yang kemudian menyatu dalam tubuhnya. Dia menggugat. Sengkuni adalah dendam dan rasa dengki. Dia “membunuh” bapak ibunya beserta ke 99 saudaranya agar dia lebih dekat dengan kakak perempuannya Gandari yang telah menjadi istri Destarasta, ayah para Kurawa. Tentu saja pengorbanan besar itu demi mewujudkan dendamnya kepada Destarasta beserta anak turunnya Kurawa. Tetapi keberadaan Sengkuni jangan lantas membuat kita merasa bersih dari sosok antagonis. Karena di dalam tubuh kita telah mengalir darahnya. Darah Sengkuni. Sengkuni itu aliran darah dalam nadi bernama Indonesia.

Kita tinggalkan sejenak Indonesia dan saatnya kita menuju sebuah negeri panggung bernama Teater Perdikan, yang menggelar pentas teater berjudul Sengkuni 2019 karya Emha Ainun Najib pada tanggal 12-13 Januari 2019 di Taman Budaya Yogyakarta. Sutradaranya bernama Jujuk Prabowo.

Sengkuni 2019 berkisah tentang kegelisahan Pak Kandheg, saat didatangi oleh anaknya, Bagus, bersama timsesnya. Pak Kandheg diperankan dengan baik oleh Novi Budianto. Sedangkan Bagus diperankan oleh Margono Widya Pranaswara. Saya paling suka adegan ini terutama pemeran tokoh Pak Kandheg yang diperankan oleh Novi Budianto.

Di atas panggung, dalam ruang bercahaya lembut terdapat 4 orang lelaki; Pak Kandheg dan anaknya Bagus yang berdiri bersebelahan dengan Timsesnya, diperankan oleh Agus Istijanto. Keduanya berdiri berhadapan di depan Kyai Sada Gati, yang duduk di atas bangku. Kyai Sada Gati adalah guru spiritual Pak Kandheg, muara segala ilmu, tempat bertanya segala hal bagi dirinya dan warga kampung. Menurut Pak Kandheg, Kyai Sada Gati, bertempat tinggal di angin yang bertiup; badannya di bumi tapi jasadnya sudah di akhirat.

Bagus mengenakan setelah jas warna warni. Terkesan mewah mirip para pejabat negeri ini. Sedangkan Pak Kandheg, hanya mengenakan kemeja sederhana dan bersarung. Obrolan mereka berdua berisi kekecewaan Pak Kandheg begitu mengetahui anaknya mencalonkan diri jadi pejabat. Pak Kandheg tidak ingin kesalahan kecil saja akan mencoreng nama anaknya. Karena bagus terlahir sebagai Julung Sungsang; anak yang terlahir saat matahari tepat di atas kepalanya sehingga seluruh alam akan melihatnya dengan terang benderang. Tetapi jaman sudah berbeda, sudah tidak seperti dulu lagi, ujar Kyai Sada Gati. Akal, pikiran manusia sudah lebih canggih. Gudel bisa jadi mboknya Kebo. Burung jadi juara lomba renang. Kera bisa dipercaya untuk menjaga kebun buah. Bahkan setan dianimasikan menjadi malaikat. Mendengar penjelasan Kyai Sada Gati, semakin mantablah penolakan Pak Kandheg terhadap keinginan anaknya. Saking muntabnya Timses bagus diusir dari ruangan itu oleh Pak Kandheg.

Kini di atas panggung dalam sorot cahaya itu hanya tinggal tiga lelaki. Kyai Sada Gati masih tetap duduk bersila di atas bangku kayu. Di depannya Pak Kandheg dan anaknya, Bagus. Suasana begitu hening. Penonton yang penuh sesak di dalam gedung Taman Budaya malam itu pun larut dalam diam.

Pak Kandheg berjalan menepi di sebelah Kyai Sada Gati. Sedangkan Bagus diperintahkannya berdiri di tengah ruang. Pak Kandheg bersuara lantang, tegas dan penuh wibawa ditujukan kepada Bagus: Angkat tangan tinggi tinggi, turun kan ke dada; Sedakep. Badan tegak ke langit, wajah tunduk ke bawah, hidup adalah tunduk kepada sang pencipta, sang pemilik kehidupan.

Bagus mengikuti perintah bapaknya karena seingat dia itu adalah awal gerakan salat. Akhirnya, dia berdiri laiknya orang yang hendak melakukan salat.

Takbiratul ikram, seru Pak Kandheg. Bagus mengangkat kedua tangannya.

Pak Kandheg berucap: Bergurulah kepada pohon, bertasbih kepada tuhan.

Sekarang Arrukuk, perintah Pak Kandheg lagi. Lantas dia berkata: Bergurulah kepada hewan. Badan membungkuk, tawadhu ke bumi.

Sekarang Assujud. Bagus pun mengikuti perintah bapaknya, dia bersujud seperti dalam gerakan salat. Nah, Kata Pak Kandheg, pada bagian ini kamu harus benar benar mantab dan khusuk. Sebab kalau sampai tidak khusuk yang terjadi bukannya Assujud tapi Asu!

Sekarang Alungguh. Lipatlah kegagahan kedua kakimu. Letakkan kedua tanganmu pada kaki yang sudah merapat denganmu. Punggung tegak ke langit, wajah tunduk ke bawah. Jari kanan telunjukmu arahkan ke Sirotol Mustakim.

Kalau kamu belum melakukannya, jangan sudah merasa menjadi manusia. Bergurulah kepada alam, kepada pohon kepada bumi . Siapa kamu? Maka kamu baru menjadi manusia, menjadi wong. Pimpin dirimu sendiri, singkirkan untuk memimpin orang lain. Jangan memiliki dan diri merasa angkuh, merasa bisa mampu memimpin bangsa. Huh, Jadi manusia saja belum lulus. Jadi binatang saja belum bisa.

Saya tidak mengijinkan kamu bergabung bersama setan setan yang menjelma menjadi manusia dan yang merusak bangsa dan negaramu, tegas Pak Kandheg.

Kalau kau tidak patuh pada bapakmu maka akan kulempar kau ke hutan rimba Padepokan Sengkuni raya.

Panggung kembali meriah oleh tabur cahaya dengan masuknya para penari Mizano—Milenial jaman now yang sekaligus berperan mengubah seting panggung pertunjukan.

Sekira menjelang 20 menit menuju akhir pertunjukan, lalu muncullah Sengkuni. Dalam sorot cahaya panggung warna warni dia melakukan monolog. Meluapkan dendam masalalunya atas ketidakadilan.

Gerak tubuh dan gesturnya begitu kuat menyeret mata penonton tertuju kepadanya seorang dengan takjub. Joko Kamto berhasil menjaga kekuatan vokalnya dengan irama teratur serta daya serapnya terhadap naskah lakon terlihat matang.

Inilah saya, Sengkuni, ucapnya dingin, sorot matanya penuh dendam. Dia bergerak ke bibir panggung mendekati penonton. Tatap saya baik baik, katanya, dengan tatapan mengancam. Pandang wajah saya dengan seksama. Nama saya tidak penting. Yang lebih penting adalah penderitaan saya. Sengkuni adalah mbahnya teroris sepanjang masa. Saya akan bunuh semua manusia. Saya akan membunuh apa saja, siapa saja yang ada di atas saya. Akan kugandeng bumi kulempar ke matahari.

Sebab dengan seluruh penderitaan yang saya hadapi. Kejahatan sebenarnya bisa sedikit dimaklumi asalkan dilakukan dan di sekeliling kalian terdapat Sengkuni yang tidak memakan jasad-jasad melainkan memakan martabat rakyatnya. Melahap hak-hak rakyatnya. Merendahkan dan menghina kemanusiaan. Saya jahat karena ditindas. Saya jahat karena menderita. Itupun kejahatan yang saya lakukan sangat tidak sebanding penderitaan saya. Sedangkan kalian, jahat karena memang jiwa kalian bobrok. Kalian kejam kepada rakyat kalian sendiri karena kepribadian kalian memang hina. Kalian membohongi dan menghancurkan nasib rakyat kalian sendiri, dan satu-satunya alasan kalian melakukan itu adalah karena kalian memang makhluk yang rendah. Kalian rusak tanah air bangsa kalian, kalian tebangi pohon-pohon kekayaannya, untuk kalian jual kepada para penjajah. Satu-satunya alasan kenapa kalian semua ini menjahati rakyat, adalah karena jiwa kalian memang hina, karakter kalian bobrok, moral kalian busuk, dan mental kalian rendah, serendah-rendahnya. Sengkuni adalah dendam dan rasa dengki. Cak Nun dalam tulisan pengantarnya mengatakan bahwa Sengkuni 2019, masing-masing orang dan masing-masing pihak menjadi ancaman bagi orang dan bagi pihak lain. Sampai agama, Nabi, dan Tuhan pun hadir sebagai ancaman. Semua makanan membawa penyakit. Semua pemikiran membawa mudarat. Kebenaran tidak menjadi kebaikan. Dan niat baik susah menjadi kemaslahatan. Karena Sengkuni adalah darah kotor dalam diri manusia. Kanker ganas di dalam darah setiap kumpulan masyarakat dan negara manusia. Para Sengkuni yang mengendalikan negara saling menuding Sengkuni satu sama lainnya.

Itulah kesadaran 2019 bangsa kita menghadapi tahun politik yang bisa merusak tatanan budaya adiluhung bangsa bangsa Indonesia.

Photo & Text by Eko Susanto