Penangsang Dalam Bayangan Sebuah Media Refleksi Diri

Penangsang Dalam Bayangan

Jogjaperformingart – Seorang seniman selalu punya cara yang unik untuk menyampaikan sebuah pesan. Inilah yang dilakukan Satriyo Handriyatno / Satriyo Ayodya. Untuk merayakan ulang tahunnya, alih-alih mengadakan pesta, Satriyo mempersembahkan sebuah karya tari berjudul Penangsang dalam Bayangan kepada masyarakat.

 

Bertempat di gedung Societed Militair kompleks Taman Budaya Yogyakarta, Penangsang dalam Bayangan digelar pada tanggal 12 Maret 2019. Penangsang dibuka dengan kehadiran 6 penari di lobby gedung Societed. Lima penari wanita dan seorang penari pria bergerak merespon benda-benda yang dihadirkan sebagai artistik pertunjukan. Cermin, topeng, dan kursi, semua direspon oleh keenam penari sambil mengantarkan penonton untuk masuk ke dalam gedung pertunjukan. Tak lama setelah semua penonton masuk ke dalam gedung, pertunjukan kembali berlanjut dengan kemunculan dua penari di atas panggung yang berebut sebuah keris. Disusul kemudian dngan kemunculan penari rampak reog yang bergerak secara dinamis. Selama 25 menit, Satriyo kembali memunculkan simbol-simbol sarat makna dalam pertunjukannya. Tidak melulu cermin, topeng, dan kursi saja, beberapa pesan dimunculkan secara cerdik sehingga pertunjukan tidak menjadi terkesan “berat”.

 

Lewat Penangsang dalam Bayangan, Satriyo ingin mengajak penonton untuk merefleksi diri. Penangsang ada di tengah-tengah kita atau mungkin dalam diri kita. Penangsang, sang tokoh utama, merujuk pada Aryo Penangsang, penguasa Jipang pada pertengahan abad 15, adalah sosok yang angkuh, punya ego yang tinggi dan temperamental. Emosi, ego, dan keangkuhan lah yang akhirnya membunuh Aryo Penangsang.

 

Berbeda dengan Aryo Penangsang, Satriyo mencoba memberikan pilihan yang berbeda kepada Penangsang. Dalam pertunjukan malam itu, dikisahkan bahwa Penangsang mau menekan ego dan bersedia untuk merefleksi diri sehingga terhindar dari kekalahan ( kematian ). Hal ini digambarkan lewat sosok Penangsang yang mau bercermin, menemukan titik balik kesadaran, dan akhirnya sadar serta mau memperbaiki diri ( membersihkan diri ). Hidup bukanlah panggung sandiwara ( topeng ). Jika kita terjebak dalam ego dan mau menang sendiri ( kursi ) dan tidak mau merefleksi diri ( cermin ), kehancuran lah yang akan kita dapatkan. Dalam hidup selalu ada jalan terang atau sosok yang membawa terang dan coba menuntun kita. Apakah kita mau mengikuti jalan terang atau mau tenggelam dalam ego, semua kembali ke pilihan kita masing-masing.

(PA) (NS) (AK) (BM) (EA) (ST) (FE) (SH)

en_USEnglish
en_USEnglish