Ratu Adil Sebuah Wicara Tunggal

Wicara Tunggal “Ratu Adil”

Sura Klengsot terbaring di Dipan membuka pementasan monolog

Jogjaperformingart – Wicara Tunggal “Ratu Adil”
Monolog Bahasa Jawa
Sugeng Iwak Bandeng
Societet Military TBY
Selasa, 17 September 2019
—–
01
Panggung memerah, seberkas sinar putih menyorot tepat di tengahnya di mana Sura Klengsot membaringkan tubuhnya di sebuah dipan.
Musik bernuansa mistis mengalun, membawa suasana nglangut, ketika Sura Klengsot perlahan bangkit.

“Kok aku pisah saka raga ku?” seru Sura Klengsot terheran.
“Sakjek-e iki, aku ora tau ninggalke kowe. Nanging keneng apa, kowe mbuang aku ana ing alam.. papan sing sepi iki?”
Termenung, namun terbebas dari rasa nggumun, kini Sura Klengsot menyadari bahwa dirinya tidak sedang bermimpi.

Prolog yang langsung mengajak spektator ke In Medias Res ini, sambil diimbuhi sedikit flash back, kemudian melaju dengan plot twist Poetic Justice pada babak-babak selanjutnya.

Sura Klengsot yang semasa hidupnya adalah seorang pejabat penting dalam urusan seni budaya, menilai bahwa dirinya telah sukses dengan program: “Memasyarakatkan Jathilan dan Menjathilkan Masyarakat.”.
Jathilan disini bisa dimaknai ganda. Tak lain ketika kursi kekuasaan pun rentan terhadap godaan korupsi. Bagaimana ‘menjathilkan’ anggaran negara untuk kepentingan dirinya serta ‘jathilan’ kroni-kroninya.

Meski begitu, Sura Klengsot tetap kelabakan saat pemeriksaan (dari badan negara yang lain) dilakukan di kantornya. Berbagai upaya dijalankan untuk menyembunyikan perbuatan nistanya. Di sisi lain, Sura Klengsot juga tidak terima ketika Pak Modin beserta warga semena-mena terhadap raga yang ditinggalkannya. Padahal mereka hendak memandikan jenazah dirinya.

Dialog dalam dirinya terus berkelindan, mencari keadilan. Posisi Sura Klengsot yang telah berada di alam penantian, merasa perlu mencari sosok Ratu Adil.
“Di sini sudah tidak diperlukan lagi jathilan. Apa yang masih kau cari, Tuan Pemeriksa?”
Tiba-tiba serasa dunia merutuki dirinya, saat terdengar jawaban, “Aku mencari diriku sendiri.”

Naskah “Ratu Adil” yang ditulis oleh Pak Purwadmadi ini juga menyindir usaha manusia yang terus mencari, menemukan, dan memahami identitas dirinya. Namun paradoksal, ketika usaha tersebut menjadi sia-sia.

02
Naskah berbahasa Jawa yang sudah cukup kritis menyentil permasalahan manusia dan kemanusiaannya dan disutradarai oleh Toelist Semero ini, sebenarnya akan lebih menggigit dengan pesan yang mau disampaikan ke spektator. Apalagi ketika setiap kritik tersebut dibawakan dengan nada guyon. Sisi lain yang sebenarnya telah lama dikuasai oleh Sugeng Iwak Bandeng, yang kenyang dengan pengalaman Dagelan Mataram, ketoprak tobong, dan predikat MC-nya. Meski, mungkin Sugeng IB cukup ‘kesulitan’ saat pertama kali ber-monolog. Bisa jadi karena dia sudah terbiasa dengan formula umpan dan pancingan, sambil digoreng menjadi lelucon yang meletup di atas panggung.

Terlepas dari hal itu, wicara tunggal ini tetap layak diapresiasi. Mengingat perjalanan berkesenian Sugeng IB selama ini. Saya kira, Pak Purwadmadi selaku penulis naskah dan Toelist Semero selaku sutradara, juga bakal memberikan kebebasan lebih untuk mendukung tujuan tersebut. Tidak bersikukuh mati, harus sesuai dengan tiap kalimat, kata, bahkan titik, dan koma di dalam naskah serta gaya penyutradaraan.

Apresiasi lain yang juga layak disambut adalah, mengingat jarangnya pementasan monolog berbahasa Jawa itu sendiri. Bagi mereka yang telah mengenal bahasa Jawa, tentu mengenali pula ungkapan-ungkapan bermakna ganda pada setiap kosa kata didalamnya. Sebagaimana akrab dilakukan oleh Basiyo, Ki Hadi Sugito, dan bahkan Srimulat sebagai contohnya. Mereka sangat tahu, bahwa seni sastra dan seni pertunjukan adalah dua hal yang berbeda.

Mengingat kembali saat MC sebelum membuka pentas malam itu, ‘ngudarasa’ atau berbicara sendiri, sebenarnya sudah sangat dikenal dalam seni pertunjukan di Jawa. Seringkali adegan ini muncul saat aktor mengekspresikan keluh kesahnya, atau saat membicarakan, ngrasani, bahkan ghibah tentang orang atau hal lain. ‘Ngudarasa’ atau monolog ini bisa berbentuk emosional, penyesalan, atau dengan berandai-andai.

03
Untuk ke depan, semoga khazanah ‘ngudarasa’ yang diproduksi oleh Komunitas Esem, dan difasilitasi oleh Dinas Kebudayaan DIY melalui Dana Keistimewaan ini, mampu memantik dan memicu gairah munculnya naskah-naskah serta pementasan berbahasa Jawa lainnya. Tanpa menjadi ‘mabuk’ sambil selalu mewaspadai ‘permainan’ Dana yang disebut Istimewa tersebut.

-*-

en_USEnglish
en_USEnglish