Para Pensiunan 2049: Horor Nan Jenaka Gandrik

Jogjaperformingart – Pensiun identik dengan usia tua. Bagi seseorang yang sepanjang hidupnya mempunyai kekuasaan, pensiun merupakan lawan politik yang alot untuk dijatuhkan. Dia lembut merayap. Menggerogoti tubuh, hati dan pikiran. Beberapa orang yang telah pensiun dari jabatannya biasanya akan sedikit gontai, baik tingkah lakunya, perkataannya, maupun tindakannya. Bahkan ada orang yang telah pensiun selalu merasa dicekam ketakutan. Ketakutan pada masa lalu. Ketakutan karena sudah tidak mempunyai kekuatan dan kuasa.

 

Pada tahun 2049, di sebuah negeri antah berantah terdapat para pensiunan yang menikmati kehidupan dengan tenang dan nyaman. Mereka adalah para pensiunan Jendral, pensiunan politisi, pensiunan hakim dan para pensiunan pejabat lainnya. Namun ketenangan para pensiunan itu mulai terusik saat pemerintah setempat membuat Undang-undang Pemberantasan Pelaku Korupsi. Undang-undang itu secara konstitusional mengharuskan siapa pun yang mati, wajib memiliki Surat Keterangan Kematian yang Baik (SKKB). Undang-undang tersebut memang sengaja dibuat agar para pelaku korupsi menjadi jera. Sehingga, mayat yang tidak terkena kasus korupsi saja yang mendapatkan SKKB. Jika tidak mempunyai surat SKKB tentu saja mayatnya tidak dapat dikubur karena dianggap tidak berkelakuan baik.

 

Untuk mendapatkan SKKB, para pensiunan itu melakukan berbagai macam cara, mulai dari membujuk, menjebak, hingga menyuap penjaga kubur. Sementara jenazah pensiunan yang telah mati terus mendatangi kolega dan instansi yang berwenang agar nama baiknya bisa dipulihkan dengan SKKB. Undang-undang Pemberantasan Pelaku Korupsi ternyata juga membuat repot mereka yang belum mati karena cemas bila mati jenazahnya tidak bisa dikuburkan. Bahkan ketika Undang-undang itu menjadi isu politik dan banyak kepentingan yang mempolitisir, Undang-undang tersebut mengancam mereka yang tengah berkuasa.

 

Penggalan cerita dari negeri antah berantah itu merupakan naskah lakon “Para Pensiunan 2049” yang akan dipentaskan pada tanggal 8-9 April 2019 di Taman Budaya Yogyakarta. Naskah ini disadur dari naskah lawas yang dibuat Alm. Heru Kesawa Murti pada tahun 1986 berjudul “Pensiunan.”

 

“Setelah melalui serangkaian proses, naskah ini ditulis ulang oleh Agus Noor dan Susilo Nugroho dan berganti nama menjadi “Para Pensiunan 2049” agar dapat diterima dan dinikmati oleh generasi muda,” Kata G. Djaduk Ferianto, dalam acara makan siang bersama para jurnalis di Warung Bu Ageng, Tirtodipuran, Yogyakarta, siang tadi (5/4).

 

Para Pensiunan merupakan kisah masa depan jika upaya pemberantasan korupsi menemui jalan buntu, kehidupan akan semakin haru dan lucu. Kami menampilkannya dengan gaya yang sedikit horor namun tentu saja akan tetap membuat penonton terpingkal-pingkal,’ ujar Butet Kartaredjasa, Pimpinan Produksi Pementasan Para Pensiunan 2049.

 

‘Pementasan kali ini merupakan pentas pamit pensiun Butet Kartaredjasa dan beberapa pemain tua lainnya. Gandrik masa depan akan diisi oleh pemain-pemain muda berbakat yang telah ikut berproses bersama Teater Gandrik,” kata Djaduk Ferianto.

 

“Butet, saat ini sudah berbintang lima,” guyon Djaduk. “Jadi, pementasan kali ini juga merupakan terapi bagi jantungnya.”

 

Teater Gandrik dalam setiap pementasannya selalu menyuguhkan tema-tema sosial yang berkembang dalam kehidupan sehari-hari dengan menggunakan “guyon parikena,” yaitu sindiran halus, seperti mengejek diri sendiri.

 

“Kekuatan naskah lakon Gandrik itu selalu mencubit tapi tidak sakit. Hal itu yang selalu menimbulkan tawa sehingga banyak orang menganggap Gandrik sebagai dagelan,” lanjut Djaduk Ferianto.

 

Dalam pemantasan “Para Pensiunan 2049” ini Teater Gandrik menampilkan Butet Kartaredjasa, Susilo Nugroho, Jujuk Prabowo, Rulyani Isfihana, Sepnu Heryanto, Gunawan “cindil” Maryanto, Citra Pratiwi, Feri Ludiyanto, Jamiatut Tarwiyah, Nunung Deni Puspitasari, Kusen Ali, M. Yusuf “peci miring,” M. Arif “Broto” Wijayanto, Muhammad Ramdan, dan Akhmad Yusuf.

 

Pada pementasan kali ini Gandrik didukung oleh penata artistik Ong Hari Wahyu, Penata cahaya oleh Dwi Novianto, dan musik oleh Arie Senyanto. Naskah lakon ditulis Agus Noor dan Susilo Nugroho. Pimpinan Produksi; Butet kartaredjasa. Sedangkan sutradara oleh Djaduk Ferianto.

 

“Para Pensiunan 2049” selain dipentaskan di Taman Budaya Yogyakarta pada tanggal 8-9 April 2019, juga akan di pentaskan pada tanggal 25-26 April di Ciputra Artpreneur Theater, Jakarta.

 

Antusisme penonton di Yogyakarta yang tinggi membuat tiket pertunjukan online telah terjual habis. Sedangkan tiket on the spot di taman Budaya Yogyakarta, masih tersedia.

 

Pementasan Gandrik merupakan pementasan multitafsir sehingga tiap penonton satu dengan yang lainnya akan mempunyai tafsir yang berbeda saat menyaksikannya.

(Foto & Text oleh ES )

en_USEnglish
en_USEnglish