Lewat Tengah Malam, Mereka Menari di Trotoar Jalan

Malioboro After Midnight

Kinanti Sekar Rahina dalam Doa sang Penari

Jogjaperformingart – Malioboro memang menyimpan sejarah panjang tentang dunia seni. Jalan sepanjang kurang lebih 3 kilometer ini menjadi jantung kota Yogyakarta. Sejarah panjang kesenian di trotoar jalan ini bermula pada tahun 1960an saat para penyair membentuk komunitas seni bernama Persada Studi Klub (PSK) yang diinisiatori oleh Umbu Landu Paranggi, sang presiden Malioboro itu. Anggota komunitas PSK adalah seniman-seniman yang mumpuni hingga saat ini, sebut saja Emha Ainun Najib, Ebiet G Ade, Iman Budhi Santosa, Ragil Pragolopati dan masih banyak lagi.

Pada tahun 1980an hingga 1990an lahir pula para musisi jalanan yang dipelopori oleh KPJ Malioboro, Mas Anis Saichu dengan kelompok Reaggenya, Komunitas malioboro Clasical yang digawangi oleh Agus “Dayak” Imron, serta teman-teman pengamen jalanan lain. Para perupa jalanan tidak mau kalah dalam berkesenian dengan lahirnya komunitas Pelukis Jalanan atau PERJAM. Namun romantisme berkesenian di jalan Malioboro lambat laun pudar untuk tidak dikatakan sepi aktivitas seni.

Dan saya, hampir 11 tahun hidup bersama komunitas seni di jalan ini pada tahun 1990an. Bergabung dengan komunitas seni teater bersama teman-teman komunitas seni Malioboro. Tapi jaman telah berubah. Jaman Milenial yang kapitalistik tidak hanya membubarkan aktivitas seni jalanan tapi juga menikam idealisme para seniman jalanan.

Dulu, mereka berkesenian di jalan malam hari. Tak memikirkan uang. Semua karena kecintaan. Pengamen dengan alat lengkap berkreasi menggubah musik latin membawakan “Besame Mucho” yang terkenal saat itu denga gaya khas anak jalanan. KPJ Malioboro yang menyuarakan kondisi sosial. Malioboro Clasical yang biasa nongkrong di seberang malioboro Mall, dan berkreasi dengan berbagai genre musik yang mereka sukai saat itu. Dan saya, bersama-teman-teman seni peran berlatih vokal dan melakukan pendalaman naskah di tepain jalan itu.

Tiap malam saya dan teman-teman, berlatih teater di depan Gudeg Yu Siyem, melakukan reading naskah, mengolah tubuh dan berdiskusi tentang banyak hal termasuk kesenian. Sedangkan para pelukis wajah berkeliling mencari pelanggan yang tengah makan di lesehan. Komunitas seni saat itu begitu hidup.

Ada yang berekspresi membaca puisi usai nenggak ciu. Semua dilakukan karena kecintaan akan seni yang diminati tiap personal dan kelompoknya dengan idealism dan penuh kegembiraan, hingga pagi menjelang.

Namun itu hanya sepenggal kenangan. Saat ini, tak ada lagi komunitas penyair yang berkumpul di Malioboro sebagaimana dulu. Begitu pula dengan perupa yang awalnya menjadi pelukis wajah lalu membentuk organisasi bernama PERJAM yang kemudian merambah ke galeri-galeri seni. Para musisi jalanan yang dulu bermain musik penuh idealism, perlahan mulai meninggalkan Malioboro dan berpindah bermain di kafe-kafe dan bar-bar yang mulai menjamur di Yogyakarta.

Beberapa waktu belakangan ini, beberapa seniman mulai lagi menghidupkan aktivitas seni di Malioboro. Baik musisi jalanan seperti Alfon Arusdikara dan beberapa perupa, serta teman musisi lain yang dulu pernah “bersekolah” dan menjalani kehidupan di Malioboro; berusaha menghidupkan kembali iklim kesenian di Malioboro. Tapi apakah kita tega membiarkan Alfon dan teman-temannya berjalan sendiri? Membiarkan Malioboro sepi dari kesenian?

Dini hari kemarin, Rabu (13/3) saya datang ke Malioboro karena ada acara seni yang uniknya dilakukan lewat tengah malam. Acara itu bertajuk “Malioboro After Midnight” yang merupakan ekspresi seniman tari untuk merespon trotoar jalan sebagai ruang berkesenian. Inisiatornya seniman tari Bimo Wiwohatmo.

Malioboro pukul 00.30 wib. Jalanan sudah sepi. Hanya sesekali ada mobil yang lewat juga sepeda motor. Saya memutar ke jalan Perwakilan karena lokasi pentas berada di Utara yakni di depan Mie Ayam Grabyas di seberang hotel Garuda. Saya parkir persis di depan lesehan mie ayam Grabyas milik Bimo Wiwohatmo. Tidak ada panggung. Lokasi pentas berada di trotoar di antara bangku-bangku taman, juga tidak ada standing light. Lampu-lampu sorot untuk mencahayai penari hanya diletakkan di lantai trotoar.

Penonton sudah mulai berdatangan. Mereka adalah penikmat seni yang serius yang dengan rela datang untuk menonton tarian pada dini hari. Beberapa seniman seperti Jemek Supardi dan beberapa seniman tari juga terlihat. Berbaur bersama pengemudi Gojek, wisatawan domestik, pedagang asongan. Para pemburu foto sudah sejak tadi menempati posisi yang menurut mereka nyaman.

Saya melihat Bimo Wiwohatmo, inisiator acara ini, tengah sibuk menyalami para sahabatnya. Saya menghampirinya dan mengajaknya berbincang sejenak.

“Dulu Malioboro adalah tempat nongkrong saya dan anak-anak seni rupa. Waktu itu anak-anak seni rupa dalam satu minggu pernah membuat 500 sketsa dengan objek bebas, mulai dari objek yang ada di Malioboro, Pasar Kembang, Pasar Ngasem, Stasiun tugu, dan lain sebagainya. Seniman dibebaskan berkreasi.”

“Artinya,” demikian Bimo melanjutkan, “Malioboro ini telah melahirkan seniman-seniman yang tertempa dari ruh seni yang ada di Malioboro. Namun, beberapa tahun kemudian berubah. Komersial,” katanya, sambil tertawa.
“Karena ekonomi?” tanya saya.
“Mungkin karena tuntutan ekonomi,” lanjutnya. “Tapi etikanya, dulu mereka berproses dan ditempa di jalan ini; pengamen dan lain sebagainya. Potensinya dahsyat!”
“Lantas idealismenya?” tanya saya lagi.
“Ya, tentu saja gugur,” jawabnya.

Pada tahun 2013 Bimo dan mantan jurnalis Indonesian Press Photo Service (IPPHOS) Kunto Aji Wibowo, membuka warung Mie Ayam Grabyas di trotoar jalan Malioboro. Acara “Malioboro After Midnight” pertama kali digelar pada tahun 2014 karena semangat kebersamaan dan kegelisahan pelaku seni atas meredupnya kreatifitas seni di Malioboro. Modalnya 0 rupiah karena fasilitas lampu, sound system, genset dan seniman penampil semua bergerak dengan semangat gratisan.

“Malioboro After Midnight” diselenggarakan tiap 3-4 bulan sekali hingga akhir tahun 2017. Setelah berhasil rutin terselenggara, barulah kemudian para seniman teman-teman Bimo dari manca negara dan perupa Yogyakarta menyisihkan dana agar acara MAM terus rutin diadakan sebagai wujud menumbuhkan kreatifitas seni di Malioboro.

MAM Sempat vakum pada tahun 2018 karena trotoar jalan di sepanjang Malioboro dibangun agar lebih indah dengan dipasangi bangku taman yang tertata.
Pada tahun 2019 ini “Malioboro After Midnight” hadir kembali dan rencananya akan diadakan setiap bulan sekali yakni pada hari selasa Legi.

“Jadi, MAM lahir karena keberadaan warung mie ayam ini. Untuk mengisi kekosongan kreatifitas berkesenian. Walaupun tidak harus seperti dulu. Minimal, ruang kreatifitas itu terjaga setiap saat di jantung seni yang dulunya menyimpan jejak sejarah berkesenian di Malioboro. Etikanya itu,” kata Bimo.

Merga aku ki disek pelaku sing sekolah neng kene,” lanjut Bimo dalam jawa, “tapi saiki kok ya berubah. Pengamen-pengamen musik jalanan juga ora kaya biyen. Disek kan biasa wae ya, ora golek duit. Sekarang berbeda. Nah karena berbeda itu piye carane saya ingin membuat atmosfir itu tumbuh kembali tapi pasti akan lain dengan yang dulu.”

“Saya membuat “Malioboro After Midnight” tidak kuatir apakah ditonton orang atau tidak karena ini ruang yang lain. Berbeda dengan pertunjukan konvensional yang waktunya biasanya sore, malam juga paling jam 20.00 wib. Ini sebenarnya juga eksperiman saya. Sebuah ekspresi saya sebagai seorang seniman. Saya katakan kepada seniman yang akan tampil; ini tengah malam lho. Dan saya membiarkan bagaimana seorang seniman mensikapi ruang dan waktu. Kesenian itu luas,” kata Bimo, “kenapa kok pentas seni harus jam 8 dan di tempat tertentu. MAM memang didesain untuk ruang dan waktu yang berbeda, yang tidak layak dan konvensional seperti pertunjukan biasanya.”

Dalam “Malioboro After Midnight” Bimo hanya memberi ruang saja. Seniman dibebaskan terhadap ruang yang ada dan tentu saja tidak ada kurasi bagi seniman yang tampil karena konsepnya adalah seniman jalanan. Pertunjukan di trotoar lebih mendekatkan seniman kepada penonton. Spiritnya tradisional. Kesenian rakyat. Tak ada sekat. Atmosfir ini diharapkan berlanjut seperti dulu. Tokoh seniman akan bertemu malam hari untuk sekadar guyub, silaturahmi antar seniman yang pernah hidup di jalanan.

Malioboro adalah bentuk kegelisahan Bimo Wiwohatmo sebagai seniman untuk menumbuhkan kreatifitas seni karena Yogyakarta adalah kota budaya dan kota pelajar. “Karena saya membuka kuliner Mie Ayam Grabyas di Malioboro, walaupun bukan orang yang mengerti tentang dunia kuliner. Saya merasakan perubahan berkesenian di Malioboro. Maka lahirlah Malioboro After Midnight,” ujarnya.

“Saya sebenarnya hanya seperti orang yang memberi rabuk pada tanaman. Sebuah pohon tumbuh kembang atau tidaknya dengan baik tergantung juga pada rabuk yang diberikan pada tanaman tersebut. Di mana pohon itu akan tumbuh kita harus merawatnya,” pungkas Bimo.

Waktu sudah menunjukan pukul 01.00 wib dini hari. Ini kali 6 “Malioboro After Midnight” terselenggara. Kali ini yang tampil adalah seniman tari terkenal seperti Kinanti Sekar Rahina, Yurika Meilani, kelompok tari Angguk Sripanglaras dan Jogja Fire Foundation.

Para penari sebelum pentas menyiapkan diri di selasar trotoar depan toko. Penonton mengelilingi ruang pertunjukan di antara bangku taman di jalan yang memang disediakan oleh Pemkot Yogyakarta di sepanjang jalan Malioboro.

Penampil pertama Jogja Fire Foundation yang menari menggunakan tongkat api dan berekspresi dengan menyemburkan api layaknya pemain akrobat. Saya memotretnya beberapa kali sambil menikmati suasana Malioboro yang sudah lama tidak saya kunjungi pada malam hari. Setelah usai, penari Yurika dan temannya menari dengan merespon gerak tubuh dan balon yang dimainkan sedemikian rupa.

Sepanjang pertunjukkan seorang pelukis kaca jebolan SMSR bernama Raja Tahta Jasa merespon setiap penampil dengan melukis di atas kaca. Melihat gerak tangan dan ketenangannya dalam merespon tarian, Raja Tahta Jasa, sudah menunjukkan dirinya sebagai calon seniman muda berbakat yang akan lahir dari jalan legendaris ini.

Puncak penampil dini hari tadi tentu saja penari Kinanti Sekar Rahina. Putri seniman pantomim Jemek Supardi ini membawakan tarian berjudul “Doa Sang Penari.” Sekar, begitu biasa dia dipanggil, mengenakan busana biru dengan selendang berwarna merah yang menutupi kepalanya hingga memanjang di lantai trotoar di belakangnya. Musik pengiringnya berisi mantra tentang sisi terdalam seorang penari tentang Wiraga, Wirama, dan Wirasa bagi seorang penari. Dia melangkah perlahan lantas menaiki bangku taman sambil menari dengan gerakan pelan layaknya penari yang tengah berdoa. Jarak penonton begitu dekat sehingga tak ada lagi jarak sebuah kreasi tarian terhadap penonton di tepian jalanan.

Usai Sekar menari, saya berpindah tempat menuju lorong pertokoan mendekati kelompok tari Sripanglaras yang tengah bersiap. Memotretnya lantas saya berpindah di jalan raya untuk mengabadikan dari sudut yang berbeda. Kesenian Angguk merupakan seni tradisi rakyat yang hingga kini terus dilestarikan di desa-desa. Kini mereka menari di antara padagang asongan, driver Gojek, dan penikmat kuliner mie ayam grabyas.

Tak terasa waktu menunjukkan pukul 02.30 wib. Sebagai penutup acara Jogja Fire Foundation tampil kembali dengan permainan api yang lebih dramatis. Api-api yang diputar itu meledak-ledak menciptakan suasana meriah seperti pesta kembang api pada perayaan tahun baru. Penuh asap dan cahaya ledakan petasan.

Usai acara, saya duduk di bangku taman dalam kesendirian menjelang pulang ke rumah. Saya mengenang masa-masa berkesenian pada masa dulu bersama teman-teman Komunitas Malioboro. Dan membayangkan Malioboro seperti dulu lagi. Menjadi ruang berkreasi dan berkesenian.

(ES) (NS)

en_USEnglish
en_USEnglish