Kebebasan dari Ketidakbebasan “No Escape”

No Escape oleh Ari Ersandi

Jogjaperformingart – Seorang laki-laki mengenakan kaos, celana panjang, serta kaos kaki hitam itu badannya bergetar. Getarannya merata di seluruh tubuh, dari rambut kepala hingga ujung jari kaki tampak tak ada yang terlewat. Pada menit ketiga, tangan kanannya mengibas lalu kepalanya seperti terlempar ke kanan akibat getaran tubuh yang dilakukan. Tubuhnya tampak kokoh, selaras dengan dentum irama musik. Sementara itu, cahaya kekuningan sebuah lampu par menyorot di atas kepalanya membuat tiap lekukan kepala, hidung, leher, tangan, hingga badannya nampak tajam.

Ruang studio berbentuk huruf L seluas kurang lebih 64 m2 menjadi ruang gerak sang koreografer sekaligus penari kontemporer, Ari Ersandi serta eksplorasi musikal Glen yang didukung rekaman komposisi musik Yennu Ariendra. Malam itu, 23 Januari 2019, Ari hampir sepenuhnya menari di bawah bias lampu. Hanya beberapa kali masuk pada area gelap saat transisi adegan pertunjukan No Escape ini. Studio milik Lestari Hang-Art Yogyakarta malam itu dihiasi gerimis, aroma walang sangit samar-samar tercium. Dari dalam studio berdinding bambu itu, dalam kegelapan terlihat kunang-kunang menari di atas rumpun padi.

Pertunjukan dimulai dengan penonton yang masuk studio satu per satu membawa selembar kertas berisi instruksi. Penonton terbagi dalam tiga kelompok warna yakni merah, kuning, dan hijau. Masing-masing kelompok mendapatkan instruksi berbeda, ditandai dari hitungan waktu yang sama. Adegan diawali dengan para penonton berjalan berkeliling, sembari mencari lokasi di mana mereka bisa menempatkan diri sesuai tanda warna yang didapatkan. Glen menyeret tubuh Ari yang terkulai dengan cara memegang kakinya. Tubuh Ari menyusup di antara kaki penonton yang berjalan. Glen berhenti menyeret ketika tubuh Ari sampai pada cahaya temaram di depan sebuah tiang bambu menghadap cermin besar menempel di dinding. Glen membungkukkan dan merentangkan tubuh Ari. Glen memiliki kebebasan ‘membentuk’ tubuh Ari. Apa yang dilakukan Glen tersebut seperti mengikat tubuh Ari dengan apa yang dimaui olehnya. Keterikatan itu sebagaimana penonton yang diberi pilihan untuk mengambil peran dalam pertunjukkan melalui instruksi, meskipun penonton juga dapat memilih untuk tidak mengikutinya. Usai meninggalkan tubuh Ari yang mulai bergerak, Glen duduk dalam gelap di belakang keyboard hitam yang terletak di sudut kanan depan cermin.

Masing-masing kelompok penonton melakukan aktivitas berbeda, seperti saat anggota kelompok hijau meneriakkan namanya sendiri, sedang anggota kelompok merah tangan kanannya menunjuk Ari bersama-sama, lalu anggota kelompok kuning berupaya menulis nama masing-masing menggunakan siku. Ari lantas merespons dengan menandai gerak penonton dan menginterpretasikannya melalui gerak tubuhnya sendiri. Penonton yang ambil bagian dengan melakukan instruksi tidak menjadi kesia-siaan atau hanya sebagai ornamen semata, Ari seolah menunjukkan pentingnya partisipasi penonton dan kecakapannya dalam membaca gerak. Serupa dengan itu, fokus pandangan Ari ganti mengarah pada Glen. Tangan kiri Glen memencet ‘tuts’ gambar piano yang tertera pada layar HP sedang tangan kanannya memegang spidol. Coretan garis lengkung maupun garis tajam dibuat Glen di atas kertas putih polos A3 yang ditempel di cermin. Lampu neon warna warni menyala di sekitarnya. Siku Glen membentuk garis-garis imajinatif. Ari tampak merespons apa yang ia tangkap dari Glen secara visual baik hasil coretan maupun pergerakan tubuh Glen. Tubuh Ari terpantul melalui cermin, imaji atas ruang maya pun menyusup.

Bias lampu par kekuningan mencipta ruang. Ari berjalan mengelilingi bias lampu yang berbentuk lingkaran itu, perlahan menempatkan diri di tengah. Gradasi gelap terang menghadirkan tanda-tanda hidup pada tubuh yang berpeluh keringat. Di antara pendar cahaya, tubuh Ari menggeliat, bergulung, terlempar ke luar, dan jatuh disertai bunyi debam. Setiap jengkal tubuhnya bertenaga. Di balik otot tangannya yang mengembang dan mengempis, seolah ada ‘perangkap’ yang menyedot titik perhatian. Saat jiwa terperangkap dalam raga, keterikatan pada ruang dan waktu tak terelakkan. Tubuh Ari yang fasih dengan berbagai teknik gerak, tertangkap tak hanya menggerakkan raga saja. Ia seperti meretas batasan ruang dan waktu itu, ditambah sorot matanya mengajak pada imaji yang lebih dalam. Rasanya ia tengah membebaskan pikiran rasional saya atas konsep apa yang diusung Ari saat itu. Tersisa nikmat melihat rangkaian gerak tubuh Ari.

Ari menunjukkan beberapa kosa gerak naratif, seperti saat Ia merentangkan kedua tangannya lalu keempat jarinya mengepal sedang kedua jempolnya asyik bergerak mengikuti irama dengan mulut yang menganga sembari tersenyum. Beberapa kali ia pun berjalan berkeliling seperti pada motif gerak kancet dalam kosa gerak tari Kalimantan, selanjutnya ia juga membuat kepalan tangan lazimnya sikap tangan ngepel pada tari gagah gaya Yogyakarta. Sesekali tangannya juga membentuk sikap seperti memegang kancut pada tari Bali. Ari menghadirkan elemen-elemen gerak tari tradisi saat itu, namun rasa gerak dari masing-masing etnis itu tak tampak kental seperti lazimnya. Mozaik gerak-gerak tersebut tampak memuat rasa gerak sebelumnya saat ia bergetar maupun berayun, sehingga tak terkesan sebagai tempelan saja. Adegan ini membuyarkan kenikmatan menonton sebelumnya dengan berbagai pertanyaan yang muncul di kepala, mungkin penyebabnya dipicu oleh identitas gerak tertentu hadir secara bentuk.

Saat mesin penghitung waktu menunjukkan menit ke 30, pertunjukan itu selesai. Adegan pamungkas itu menampilkan Ari dan Glen yang saling menatap dan masing-masing tampak menggerakkan bibir tanpa suara yang tertangkap. Mereka seperti ngobrol santai dan saling pandang, Ari berdiri di sisi kiri Glen yang duduk di lantai. Terbayang lampu fade out seiring dengan waktu digital yang riuh berputar di antara maju dan mundur dengan cepat. Peristiwa yang terjadi saat pementasan, Ari mendapatkan tepuk tangan penonton berbalik dan mengucapkan terima kasih. Hal tersebut tidak lah menggugurkan apa yang telah dibangun Ari dari awal sebab rangkaian tiap adegannya tersusun dengan rapi seperti tayangan panorama memori. Di sisi lain, mungkin akan lebih menarik apabila penonton dibebaskan untuk menentukan akhir dari pertunjukkan ini.

Text by Galih Prakasiwi, Photo by Erwin Octavianto & Nanang Setiawan