Jogja International Street Performance (JISP) “Jogja The Dancing City”

Jogjaperformingart – Dinas Pariwisata DIY bekerja sama dengan Jaran Production kembali menggelar Jogja International Street Performance (JISP) dengan tema “ Jogja The Dancing City.” Gelaran JISP yang telah berlangsung sejak tahun 2010 ini melibatkan banyak seniman pertunjukan, baik dari Indonesia maupun Mancanegara.

 

Hadir dalam jumpa pers yang diadakan di aula kantor Dinas Pariwisata (Dispar) Pemda DIY, Kamis siang (19/9), adalah Kepala Bidang Pemasaran Dispar DIY Marlina Handayani, Direktur Jaran Production Bambang Paningron, dan Penghageng Kawedanan Hageng Punakawan (KHP) Kridho Mardowo KPH Notonegoro.

 

Inisiator JISP Bambang Paningron dalam jumpa pers itu mengatakan, JISP menggunakan jalan sebagai pementasan (street performance) karena sudah sejak lama Yogyakarta kekurangan ruang publik, dan itu berlangsung hingga saat ini.

 

Kegiatan seni pertunjukan di Yogyakarta itu sangat luar biasa padatnya. Dalam satu minggu, kata Bambang, ada sekitar 20 kegiatan seni pertunjukan di Yogyakarta. Gedung pertunjukan selalu penuh oleh jadwal pertunjukan. Setiap seniman berebut jadwal. Hampir setiap hari kita melihat ada acara pertunjukan seni sementara ruangnya terbatas. Melihat kondisi seperti inilah, mengapa kita membuat acara di luar ruang, yang sebenarnya bukan ruang publik, namun masih bisa memberikan akses kepada masyarakat untuk bisa menyaksikan. Tentu saja ada konsekuensi permasalahan yang cukup mendasar yakni bagaimana teman-teman seni pertunjukan bisa mengekspresikan kemampuannya di ruang-ruang yang belum tersedia,” jelas Bambang.

 

JISP akan diselenggarakan selama dua hari, Sabtu-Senin (21-23/9) mulai pukul 16.00 WIB. Hari Sabtu merupakan pra-event JISP di depan Gedung Agung menampilkan tiga pentas pertunjukan.

 

KPH Notonegoro dari KHP Kridho Mardowo dalam jumpa pers menjelaskan, Kraton Yogyakarta akan menampilkan Beksa Lawung Ageng yang melibatkan penari secara lengkap. Ada sekitar 30-an penari ditambah dengan Bregada serta tim pendukung. Keseluruhannya dari Kraton berjumlah sekitar 60-an orang.

 

Beksan Lawung Ageng merupakan salah satu tarian pusaka yang dimiliki oleh Kraton Yogyakarta, tarian itu menggambarkan adu ketangkasan prajurit bertombak. Beksan Lawung Ageng diciptakan oleh Sri Sultan Hamengku Buwono I (1755-1792) yang terinspirasi perlombaan watangan. Watangan adalah latihan ketangkasan berkuda dan memainkan tombak yang biasa dilakukan oleh Abdi Dalem Prajurit pada masa lalu.

 

“Inilah wujud nyata Kraton Yogyakarta merangkul masyarakat yang lebih luas. Ini kan sudah zamannya kolaborasi, bersinergi. Jadi Kraton sudah selayaknya mengikuti perkembangan tersebut dengan menyajikan penampilan-penampilan yang bisa dinikmati oleh masyarakat. Sepanjang tahun ini Keraton sudah menyajikan penampilan-penampilan yang dipublikasikan kepada masyarakat dan dibuka untuk umum sehingga masyarakat bisa mendapatkan kesempatan menikmati pertunjukan Kraton yang pada masa-masa sebelumnya itu sangat eksklusif dan tidak bisa diakses masyarakat luas,” Imbuh Notonegoro.
Beksan Lawung Ageng akan ditampilkan pada pembukaan JISP 2019, Minggu (22/9) malam di Monumen Serangan Oemoem 1 Maret.

 

Sedangkan Kapala Bidang Pemasaran Dispar DIY, Marlina Handayani, menjelaskan bahwa JISP merupakan salah satu upaya untuk meningkatkan kunjungan wisatawan terutama yang berasal dari manca negara dengan target kunjungan 15 persen setiap tahunnya.

 

“Targetnya meningkat dari tahun kemarin. Untuk target tahun depan, dengan dibangunnya Bandara International Yogyakarta di Kulonprogo, dan dengan adanya JISP yang melibatkan seniman dari berbagai negara, semoga juga berdampak pada peningkatan pada lama tinggal wisman di Yogyakarta,” kata Marlina.

 

JISP 2019 akan diikuti oleh seniman-seniman seni pertunjukan dari mancanegara, diantaranya Romo Dance Theatre (Malaysia), Rama Simon (Korea Selatan), Air Dance (Filipina) dan Silver Belle (Kamboja).
Selain itu menghadirkan pula seniman dari berbagai daerah di Indonesia, diantaranya: KHP Kridhomardowo, Didik Nini Thowok, Anterdans, Pragina Gong (Yogyakarta), Bellacoustic (Kalimantan Tengah), Sanggar Dangkedunai Batam (kepulauan Riau), Anis Herliani (Bandung), Puri Senjani Aprillianni (Surabaya), Bagusmasazupa (Malang), dan UKMBS Universitas Lampung.

 

JISP merupakan Gelaran pertunjukan bertaraf internasional yang diharapkan dapat menjadi ruang berekspresi para seniman dalam mempresentasikan aktivitas seni dari berbagai wilayah di Indonesia dan beberapa negara asing agar mereka dapat saling berinteraksi dan berkolaborasi sehingga ruang pertukaran budaya antar bangsa dapat terwujud.

 

Agenda Kegiatan Jogja International Street Performance 2019.

 
JISP 2019 akan diikuti performer dari dalam dan luar negeri di antaranya Jepang Korea, Malaysia, Singapura, Kamboja, dan Filipina. Berikut agenda kegiatan Jogja International Street Performance 2019 yang berlangsung 21-23 September di dua tempat.
 
Sabtu (21/9) sore (16.00-17.30) bertempat di depan Gedung Agung dengan penampilan Reog Wonogiri, Sanggar Anak Tembi, dan Krincing Manis sebagai pra-event JISP 2019.
 
Minggu (22/9) di sepanjang Kawasan Pedestrian Malioboro hingga Kawasan Titik Nol Km Yogyakarta:

  • Depan kantor DPRD DIY menampilkan Sardula Kelana (Yogyakarta), Bagus Mazasupa (Malang), oBar aBir Jazz club (Yogyakarta), mulai 16.00 hingga 20.30 WIB.
  • Gerbang barat Kompleks Kepatihan menampilkan Angguk Sripanglaras (Kulonprogo), Puri Senjani Apriliani (Surabaya), Sanggar Seni Kinanti Sekar (Yogyakarta), dan Artha Dance (Yogyakarta), mulai 16.00 hingga 19.30 WIB.
  • Depan Batik Margaria menampilkan Sanggar Tari Kembang Sakura (Sleman), Anis Harliani (Bandung), SMKN 1 Kasihan-Bantul, UKMBS Univ. Lampung, mulai 16.00 hingga 17.30 WIB.
    Kawasan Titik Nol Km Yogyakarta menampilkan Line Dance (Yogyakarta), mulai 16.00 hingga 17.30 WIB.
  • Monumen Serangan Oemoem 1 Maret, pembukaan JISP 2019 menampilkan KHP Kridho Mardowo (Yogyakarta), Didik Nini Thowok (Yogyakarta), Rina Takahashi (Jepang), Sanggar Dangkedunai (Batam), Silver Belle (Kamboja), Air Dance (Filipina), dan Bellacoustic (Kalimantan Tengah), mulai 19.30 hingga 22.30 WIB.

 
Senin (23/9) di Monumen Serangan Oemoem 1 Maret menampilkan Pragina Gong (Yogyakarta), Romo Dance Theater (Malaysia), Rama Simon (Korea Selatan), Kalpana Sivan (Singapura), Anter Asmorotejo (Yogyakarta), Jun Amanto (Jepang), Sanggar Pratiwi (Yogyakarta), dan Rampak Gendang Sekar Nyentik (Yogyakarta), mulai 19.30 hingga 22.30 WIB.

en_USEnglish
en_USEnglish