ASIA TRI 2019 “Intercurtural Experience”

Asia Tri kembali digelar. Memasuki usianya yang ke 14, Asia Tri dengan tagline “Intercurtural Experience” ini menampilkan 23 karya pertunjukan yang akan dipresentasikan selama 2 hari yakni pada tanggal 24-25 September 2019 di Omah Petroek, Desa Karangklethak, Kaliurang, Yogyakarta. Para seniman pertunjukan itu berasal dari beberapa negara seperti: Jepang, Indonesia, Malaysia, Kamboja, Korea Selatan, Filipina, dan Singapura.

 

Bambang Paningron, selaku inisiator Asia Tri dalam sambutannya mengatakan; Asia Tri bukan hanya sekadar pergelaran seni, tapi juga sebuah upaya mengedepankan keberagaman, dan toleransi. Asia Tri merupakan pertemuan dan ruang bersama untuk saling belajar, mengalami dan menghargai melalui “Intercurtural Experience”. Rencananya, lanjut Bambang Paningron, pada tahun 2020 nanti saat usia Asia Tri menginjak 15 tahun, kami akan menggelar semacam gathering. Mengundang seluruh “alumni” Asia Tri. Ya, semacam “The Big Family of Asia Tri.” Rencanaya tidak hanya 2 hari tapi bisa saja 5 hari.

 

Hari pertama pergelaran Asia Tri di Omah Petroek begitu hangat dengan penampilan pembuka oleh UKMBS Universitas Lampung dan dilanjutkan oleh Devi Savitri dari Yogyakarta. Penonton terus berdatangan hingga berdiri di sisi kanan panggung pertunjukan.

 

Penampil ketiga malam ini seniman asal Sumba, Harama. Mengenakan pakaian khas dari asal daerahnya, Harama membawakan karya berjudul Parai Piditula. Pintu Pidiloka, “Negeri yang baru dibentuk, pintu yang baru diberi warna.” Karya ini berkisah tentang seorang pemuda yang menemukan cinta sejatinya. Lazimnya dua insan yang ingin bersatu atas nama cinta, sang pemuda memberanikan diri meminang dan memohon izin kepada orang tua pujaan hatinya untuk dijadikan istri. Pemuda itu kemudian menyiapkan beragam ritual adat dan Belis agar mendapatkan restu dari orang tua perempuan yang dicintainya. Namun bagi banyak pemuda di Sumba, Belis atau mahar seringkali menjadi sebuah perjuangan yang berat untuk mempersunting perempuan yang dicintainya. Karena Belis atau mahar bisa jadi bermuatan puluhan bahkan ratusan hewan. Harama nampak sekali memperhatikan kisah-kisah perjuangan cinta para pemuda di Sumba, tempatnya dilahirkan.

 

Harama mempunyai kekuatan suara yang prima dalam pertunjukannya kali ini. Hal itu terlihat saat dia melakukan percakapan tanya-jawab dengan seorang lelaki yang memerankan tokoh si bapak perempuan yang akan disunting si pemuda. Adegan ini agak mirip dengan pantun bersahut adat perkawinan Betawi di mana wakil si pengantin lelaki akan berbalas pantun dengan orang tua calon pengantin perempuan.

 

Malam semakin larut di Omah Petroek yang berada di lereng Merapi. Penonton terlihat masih betah karena siapapun penggemar seni pertunjukan, yang menyaksikan pertunjukan ini, akan bergetar hatinya tidak hanya oleh kualitas penampil tapi juga tata cahaya dan suara yang keluar dari perangkat suara berkualitas.

 

Pertunjukan terus mengalir. Usai Harama, penampil selanjutnya adalah Bellacoustic Indonesia dari Kalimantan Tengah. Lalu dilanjutkan oleh seniman asal Jepang, Jun Amanto. Jun, merupakan penari tunggal dalam setiap pementasannya. Saya pernah memotretnya sekali beberapa tahun yang lalu di jalan Malioboro saat tampil pada pergelaran JISP 2017. Kali ini Jun Atmanto menampilkan kisah seorang samurai yang berguru kepada Tengu di gunung Kurama. Tariannya energik, khas dengan kibasan samurai Jepang.

 

Disusul kemudian Dimas Eka Prasinggih dari Surakarta, Air Dance dari Philipina, Romo Dance Theater dari Malaysia, Luna Dance dari Yogyakarta, Rama Simon dari Korea Selatan, Silver Belle dari Kamboja, dan ditutup oleh penampilan Pulung Jati Rangga dari Yogyakarta.

 

Ada yang sangat menarik dari hadirnya penampil pertunjukan malam pertama ini yakni Rama Simon dari Korea Selatan. Rama Simon adalah seorang aktivis kemanusiaan. Dia banyak memberikan bantuan kemanusiaan sambil berkeliling dunia. Rama Simon menyerap energi seni dan kebudayaan dari berbagai suku dan bangsa yang dia temui selama berkeliling dunia. Tariannya seperti para Darwis. Berputar sambil memuja cinta. Dengan tariannya ini Rama Simon berharap penonton dapat menemukan cinta dan harapan yang ada dalam hati mereka. Dia barkata; “Jangan memukul walaupun atas nama cinta.”

 

Masih ada malam kedua yang akan berlangsung malam ini di Omah Petroek, Karangklethak, Kaliurang, Yogyakarta. Para seniman pertunjukan yang akan tampil adalah Densiel dari Toraja, Iing sayuti dari Indramayu, Anter Asmorotedjo, Ayu Permata sari dan Yuki, Silir Pudjiwati, Nalitari, serta Whani Darmawan dari Yogyakarta, Boby Ari Setiawan dari Surakarta, Kiki Rahmatika dari Lampung, Kalpana dan Rupbiny dari Singapura, serta Rina Takahasi dari Jepang. (Admin)

 

en_USEnglish
en_USEnglish